Kalau NTN 103, yang Menderita Pertama Ibu dan Anak Nelayan: Ketum ANBB Ike Megasari Soroti Solar, BBL, dan Kampung Nelayan Merah Putih

Tidak ada komentar




BANTEN | MitraPublikNews.com – Ketua Umum Aliansi Nelayan Banten Bersatu (ANBB) Ike Megasari menyoroti kondisi Nilai Tukar Nelayan (NTN) nasional yang masih berada di angka 103. Angka tersebut dinilainya mencerminkan penderitaan ibu dan anak nelayan di pesisir.


"Kalau NTN 103, yang menderita pertama adalah ibu dan anak nelayan," tegas Ike Megasari dalam pernyataan resminya sebagai Srikandi Nelayan Banten, Jumat (17/10/2026).


Ike menegaskan dirinya berbicara bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai anak dan istri nelayan Banten.


"Pemerintah bangga NTP petani 131 makmur, tapi malu mengakui NTN nelayan 103. Tahu artinya 103 itu apa? Artinya bapak melaut pulang, ibu masih harus ngutang di warung untuk beli beras," ujarnya.


Menurutnya, kondisi ini membuat anak nelayan harus makan ikan asin setiap hari karena ikan segar dijual untuk membeli solar eceran seharga Rp 12.000 per liter. Bahkan, anak nelayan di Teluk Banten mengalami stunting karena gizi hilang di tengah laut yang kaya.


Dalam pernyataannya, Ike menyoroti tiga isu utama:


*1. Soal Solar: Jangan Bunuh Ibu Nelayan dengan Antrean*

Ia menyebut nelayan harus antre solar subsidi sejak jam 3 pagi, sementara istri nelayan antre beras SPHP sejak jam 4 pagi. Pemangkasan kuota solar sebesar 1,32 persen dinilai mengorbankan perut keluarga nelayan.


"Kalau solar subsidi tidak sampai ke perahu kecil 0-5 GT, yang mogok bukan perahu, tapi dapur kami," katanya.


ANBB meminta pemerintah membuka Posko Solar Nelayan Perempuan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan mencantumkan nama istri dalam data penerima solar, untuk memastikan solar tepat sasaran.


*2. Soal Benih Lobster (BBL): Jangan Jadikan Nelayan Kecil Tumbal*

Ike mengkritik penindakan Satgas P2BBL yang hanya menangkap nelayan kecil dengan 50 ekor BBL dan mempermalukannya, sementara pemodal besar yang membawa 31.255 ekor dalam kontainer ke Vietnam tidak ditindak tegas.


"Jangan atas nama konservasi, negara membuat ibu-ibu pesisir menjanda karena suaminya ditahan. Tangkap otak besarnya!" tegasnya.


*3. Soal Kampung Nelayan Merah Putih: Jangan Bangun Gedung, Lupa Manusia*

Terkait program Presiden Prabowo yang menargetkan 100 Kampung Nelayan Merah Putih hingga akhir 2026, ANBB menyatakan dukungan namun mengingatkan agar pembangunan tidak melupakan aspek manusia.


Jangan hanya membangun pabrik es megah tanpa pelatihan pengolahan ikan bagi istri nelayan, atau membangun cold storage tanpa beasiswa untuk anak nelayan.




Ike mengusulkan adanya _Pojok Srikandi_ di setiap Kampung Nelayan Merah Putih, yang berisi tempat pengolahan abon, nugget, kerupuk ikan oleh ibu nelayan, tempat belajar komputer bagi anak nelayan, dan Posyandu khusus untuk cegah stunting.


"Kalau Kampung Nelayan hanya untuk bapak-bapak, itu bukan kampung, itu dermaga," ujarnya.


*Tiga Tuntutan ANBB:*


1.  Menaikkan NTN 103 menjadi 120 dengan memberikan solar gratis selama 3 bulan saat gelombang tinggi 4 meter.

2.  Melibatkan ANBB/Srikandi Nelayan dalam setiap pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih.

3.  Menghentikan kriminalisasi nelayan BBL kecil dan mengalihkannya menjadi program budidaya lobster di pesisir binaan ANBB.


"Laut Indonesia kaya, tapi jangan sampai air mata ibu nelayan lebih asin dari air lautnya," pungkas Ike Megasari.


(*Eben*)

Tidak ada komentar